Dia lahir di Bawean — pulau kecil yang tenang, penuh angin sejuk, dan selalu punya cara membentuk karakter seseorang menjadi lembut namun kuat. Dibesarkan pun di pulau yang sama. Namanya sederhana, sesederhana cara ia tersenyum: Mas’ula. Orang-orang memanggilnya Ula.
Benar, namanya mungkin terdengar pasaran. Tapi hatinya? Tidak pernah sepasaran itu. Justru terlalu unik untuk disamakan dengan siapa pun. Untuk memenangkan hatinya pun bukan perkara mudah. Perlu keberanian, ketulusan, dan kesungguhan—karena ia adalah wanita yang sudah berdiri tegak dengan ilmunya, mengantongi gelar Sarjana S1 dari STIT Raden Santri Gresik.
Ia lahir tahun 2000, setahun lebih muda dariku. Perbedaan kecil, tapi cukup untuk membuatku selalu merasa ingin melindungi, menemani, dan menyayangi lebih dalam.
Keahliannya jelas dan nyata:
Ia ahli mengaji, dan lebih indahnya lagi, ia ahli mengajar. Anak-anak kecil selalu nyaman belajar darinya, khususnya dalam ilmu agama. Ya, istriku adalah seorang Ustadzah di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Mambaul Falah Tambilung — tempat para penghafal Al-Qur’an menempa diri.
Dan benar sekali… istriku adalah seorang Tahfidz. Hafal Al-Qur’an. Berapa juz? Wallahu a’lam — hanya Allah dan dia yang tahu. Tapi bagiku, mengetahui atau tidak bukan hal terpenting. Yang membuatku jatuh hati jauh lebih dalam adalah bagaimana ia menjaga ilmunya, menebarkannya, dan menjadikannya cahaya dalam hidupku.
Itulah istriku.
Seseorang yang namanya sederhana, tapi auranya… MasyaAllah, jauh dari kata sederhana.
