اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Khutbah Pertama
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.
Kaum Muslimin jama’ah shalat Jumat rahimakumullah.
Sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Ia anugerahkan kepada kita. Tiada satu pun selain-Nya yang mampu menghitungnya. Nikmat terbagi menjadi dua macam, nikmat lahir dan nikmat batin.
Nikmat lahir adalah segala sesuatu yang bisa kita rasakan dengan pancaindra: kesehatan, rezeki, keluarga, udara yang kita hirup, dan segala fasilitas kehidupan yang Allah mudahkan untuk kita. Sedangkan nikmat batin adalah ketenangan jiwa, iman yang tertanam dalam hati, serta rasa syukur yang membuat hidup kita penuh makna. Namu,
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
sering kali manusia hanya sibuk menghitung nikmat lahir, sementara nikmat batin yang jauh lebih besar justru dilupakan. Padahal, nikmat batin inilah yang menjadi penentu kebahagiaan sejati. Berapa banyak orang yang memiliki harta melimpah, kedudukan tinggi, namun hatinya gundah gulana, tidak pernah merasa cukup, dan tidak pernah merasa tenang. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun hatinya dipenuhi iman dan syukur, sehingga ia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan dunia.
Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita bahwa kebahagiaan seorang mukmin bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada hati yang senantiasa bersyukur dan ridha terhadap ketentuan Allah. Hati yang bersih akan melahirkan amal yang ikhlas, sementara hati yang kotor akan melahirkan perbuatan yang sia-sia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita renungkan, betapa pentingnya menjaga hati. Sebab hati adalah pusat kendali manusia. Dari hati lahir niat, dari hati muncul keikhlasan, dan dari hati pula tumbuh rasa cinta kepada Allah dan sesama manusia. Jika hati rusak, maka rusaklah seluruh amal. Sebaliknya, jika hati baik, maka baiklah seluruh amal.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hati adalah raja bagi tubuh, darinyalah lahir niat dan amal perbuatan. Karena itu, syariat menjadikan kebersihan hati sebagai pokok diterimanya ibadah dan muamalah. Dan tentang hati yang bersih inilah, Allah Ta‘ālā menegaskan dalam Al-Qur’an:
أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
﴿يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. (QS. الشعراء: 88-89)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa yang paling berharga di sisi Allah bukanlah banyaknya harta atau tingginya kedudukan, tetapi kebersihan hati.
Dikutip dari Hadits Rasulullāh ﷺ :
«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati. (HR. البخاري ومسلم)
Hadirin jamaah jum’at rahimakumullah,
Hati adalah pusat kehidupan kita. Dari hati lahir keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, juga iri, dengki, dan kebencian. Hati yang bersih melahirkan amal yang ikhlas, sedangkan hati yang kotor melahirkan dosa dan permusuhan.
Oleh karena itu, marilah kita rawat hati kita dengan:
Dzikir – mengingat Allah akan menenangkan hati.
Membaca Al-Qur’an – cahaya bagi hati yang gelap.
Menjauhi dosa – karena dosa sedikit demi sedikit akan menghitamkan hati.
Berteman dengan orang shalih – sebab hati mudah terpengaruh oleh lingkungan.
Jangan sampai kita sibuk memper-indah lahiriah tetapi melupakan batiniah. Di hadapan manusia, penampilan bisa menipu. Tapi di hadapan Allah, yang dinilai adalah kebersihan hati.
Semoga Allah memberi kita قَلْبًا سَلِيْمًا, hati yang bersih, sehingga kita selamat dunia dan akhirat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُلُوْبَنَا صَافِيَةً، وَنُفُوْسَنَا زَاكِيَةً، وَأَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
