Kecupan Terakhir Sebelum Langkah Terpisah

Kecupan Terakhir Sebelum Langkah Terpisah

Pagi itu terasa berbeda—ada hening yang pelan, ada angin yang membawa rasa berat, ada detik-detik yang ingin kuperlambat. Ponakanku berdiri di depanku dengan ransel kecilnya, mata polos yang belum memahami arti jarak dan kepergian.

Aku membungkuk, lalu mengecup dahinya perlahan. Hangat. Lembut. Sesaat yang singkat tapi penuh arti.
Kecupan itu bukan hanya salam perpisahan, tetapi juga doa yang kuselipkan diam-diam—semoga langkahnya di tanah jiran nanti dimudahkan, dijaga, dan selalu berada dalam lindungan-Nya.

Ia tersenyum kecil, seolah kecupan barusan cukup untuk membuatnya berani melangkah jauh.
Dan di momen itu aku menyadari: perpisahan kecil seperti ini tak pernah mudah, namun selalu menyimpan harapan besar.

Kecupan hangat itu menjadi penanda—bahwa jarak boleh merentang, tetapi kasih sayang tak pernah benar-benar pergi.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *