Hari Ketika Ucapanku “Selamat, Sayang” Punya Makna yang Lebih Dalam

Hari Ketika Ucapanku “Selamat, Sayang” Punya Makna yang Lebih Dalam

Ada momen dalam hidup yang tak perlu dirayakan dengan pesta besar—cukup dengan rasa bangga yang meletup dari dada. Hari wisuda istriku, Mas’ula binti Amri, adalah salah satunya.

Di kampus STIT Raden Santri Gresik, ia resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Gelar yang bukan hanya hasil dari lembar-lembar tugas, kelas panjang, dan ujian semester—tapi juga hasil dari tekadnya yang tidak pernah goyah.

Aku melihatnya melangkah dengan jubah wisuda, membawa nama orang tuanya, membawa mimpinya sendiri, dan membawa harapan kami sebagai keluarga kecil. Ada cahaya berbeda di matanya—cahaya seseorang yang berhasil menaklukkan perjuangannya sendiri.

Di balik hari itu ada malam-malam belajar, lelah yang tak pernah ia adukan, dan semangat yang tetap penuh meski dunia sering terasa berat. Dan hari ini, semua itu terbayar dengan senyum yang membuatku ikut merasakan kemenangan yang sama.

Aku selalu tahu ia istimewa. Tapi hari itu, seluruh kampus seakan ikut menyadarinya.

Selamat, istriku.
Gelar itu bukan sekadar huruf di belakang namamu—itu adalah bukti dari perjalananmu, kekuatanmu, dan masa depan yang lebih luas yang sekarang kamu genggam.

Dan aku bangga menjadi orang yang berdiri paling dekat ketika kamu mencapainya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *